Pasar Jaman Hindia Belanda di Bogor

Arbeiders trekken een goederenwagen voort terwijl zij 'Marmerwerkerij A. Orsini' te Buitenzorg, Java, passeren

Leave a comment »

Judul-judul Lagu tentang Bogor (jadul hingga sekarang) :

nih Judul-judul lagu tentang Bogor (jadul hingga sekarang) :
1. Bogor indah          == Ernie Djohan
2. Antara Bogor Cianjur == Bimbo
3. Bogor jakarta        == Bondan&Fade2Black
4. Semalam dikota Bogor == Alfian
5. Puncak Bogor         == Rita Tila
6. Bogor Cintaku        == Swaditra
7. Tamasya Ke Kota Bogor== Retno
8. bunder (BogOr)       == Oncom hideung – bunder (zeny vespaholic)

Leave a comment »

Band Barokah

Barokah Band= Band  Karyawan BBIA Bogor

Leave a comment »

Bogor Tengah tempo doeloe

Stuw in Empang, Buitenzorg (Bendungan Empang jaman Hindia Belanda)

Warongs op Panaragan bij de Roode Brug in Buitenzorg (1900-1920)

Straatgezicht, Buitenzorg (Sekarang Jl. Ir. H. Juanda/ Depan kantor Balai Besar Industri Agro)

Hotel Bellevue te Buitenzorg, met de vulkaan Salak op de achtergrond (1860-1900) – Sekarang Bogor Trade Mall (BTM)

Stuw in Pledang- Mantarena (Buitenzorg), met de vulkaan Salak op de achtergrond – Sekarang Jembatan menuju Kampung Mantarena – Pledang

Comments (2) »

Bogor Masa Lalu

Huis met staande achter het raam Dr. W.G. Boorsma, chef van een chemisch pharmaceutisch laboratorium te Buitenzorg (1900 - 1940)

Chinese tempel, Buitenzorg (1920-1930)

De Europese afdeling van het Rode Kruis Ziekenhuis, Buitenzorg (1929-1930)

De pasar in Buitenzorg (1870)

Hotel Bellevue te Buitenzorg, met de vulkaan Salak op de achtergrond (1860-1900) (Sekarang BTM)

Comments (1) »

Foto Foto Buitenzord/Bogor Jadoel

Balai Besar Industri Agro

Awal berdiri tahun 1890 dengan nama Agricultuur Chemisch Laboratorium dalam lingkungan Departement van Landbouw, Nijverheid en Handel dengan tugas antara lain :

  1. Melayani para ahli dan sarjana pertanian dalam meneliti tanaman-tanaman tropis terutama yang ada di Kebun Raya serta arti ekonomi dari tanaman-tanaman tersebut.
  2. Memeriksa/menguji barang-barang dan bahan untuk intansi pemerintah terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan sebagainya.

Tugas pengujian berkembang dengan pesat dengan mengikuti kemajuan bidang pertanian dan perdagangan terutama dengan barang-barang ekspor serta perdagangan dalam negeri sebagai hasil pembinaan dari bagian Nijverheid dalam Departement Van Lanbouw, Nijverheid en Handel. Maka dalam tahun 1909 nama Laboratorium diganti menjadi Bureau voor Landbouw en Handal-analyse berdasarkan keputusan Gubernur Jendral Ned. Indie tanggal 29 Januari 1909 dan tercatat dalam Javasche Couran sebagai Besluit van Directuur voor Landbouw No. 3952 Tanggal 27 Mei 1909.

Tugas pengujian makin berkembang di samping tugas-tugas rutin penelitian, dan dengan perbaikan serta penambahan fasilitas, tempat dan peralatan menjadikan Laboratorium ini paling terkemuka di Indonesia pada waktu itu. Dengan makin meningkatkan peranan Laboratorium ini dalam menguji barang-barang ekspor, impor dan perdagangan dalam negeri, serta dalam penelitian-penelitian agrokimia yang merintis pertumbuhan agro industri dalam negeri maka terjadi penggantian nama Laboratorium, yaitu dalam tahun 1911 menjadi Handels Laboratorium dan tahun 1918 menjadi Analytisch Laboratorium.

Dalam tahun 1934 Laboratorium Kimia Tumbuh-tumbuhan (Phytochemisch Laboratorium) dalam lingkungan Kebun Raya dan balai penelitian yang tergabung dalam Balai Besar Penyelidikan Pertanian (Algemeen Proefstation voor de Landbouw ) melebur diri kedalam Analytisch Laboratorium, dan gabungan menamakan diri sebagai Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek terdiri dari Laboratorium-laboratorium sebagai berikut :

  1. Laboratorium Analitika
  2. Laboratorium Kimia Tumbuh-tumbuhan
  3. Laboratorium Kimia Pertanian
  4. Laboratorium Harsa
  5. Laboratorium Minyak Atsiri

Penelitian-penelitian di bidang agrokimia berjalan dengan seiring tugas pengujian yaitu pengujian hasil-hasil pertanian dalam arti yang luas untuk kepentingan ekspor dan memajukan industri pengolahan hasil pertanian dalam negeri. Penelitian phytokimia dan minyak atsiri sudah dirintis sejak didirikannya Laboratorium ini. Diberlakukannya sistem pengawasan susu, ditunjuknya Laboratorium ini sebagai penguji kulit kina oleh pabrik kina Bandung, sistem pengujian air minum dan pengawasan minuman beralkohol, membuat Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek menjadi Laboratorium terkemuka di jaman Hindia Belanda.

Di jaman pendudukan Jepang (1942-1945), Balai Penyelidikan Kimia di beri nama Gunsaikanbu Kagaku Kenkyusyu dengan tugas terutama melakukan “applied research”. Tugas ini menjadi cirri Balai seterusnya.

Pada jaman Revolusi Fisik, Balai di masukan dalam Kementrian Kemakmuran Republik Indonesia dan ikut hijrah ke Klaten, Solo dan Yogyakarta, Pada waktu kantor di bogor dikuasai Belanda. Pada tahun 1950, pemerintah R.I. kembali ke Jakarta dan Balai Penyelidikan Kimia kembali melakukan tugasnya seperti biasa. Lanjutan hijrah ke Klaten telah melahirkan Balai Penyelidikan Kimia Surabaya (Sekarang Balai Riset dan Standarisasi/BARISTAN SURABAYA) dalam tahun 1951.

Tahun 1951 Balai Penyelidikan Kimia dimasukan ke dalam Departemen Perdagangan dan Perindustrian yang kemudian berubah menjadi kementrian Perekonomian, Tahun 1957 Balai dimasukan ke dalam Kementrian Perindustrian dan tahun 1959 di dalam Departemen Perindutrian Rakyat.

Tahun 1980 Balai Penyelidikan Kimia/Balai Penelitian Kimia berubah menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian (BBPPIHP) dan berada dibawah Departemen Perindustrian

Tahun 2002 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Hasil Pertanian berubah menjadi Balai Besar Industri Agro (BBIA) sampai saat ini dan berada dalam lingkungan  Departemen Perindustrian

Foto-foto disekitar BBIA

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.